Jumat, 18 Juli 2014

Perjalanan menuju puncak Gunung Slamet Jalur Bambangan

         Tujuh belas agustus 2013 adalah hari yang kami tunggu setelah 2 tahun yang lalu, inilah perjalanan kami sebagai angkatan pertama yang keempat kalinya, tujuan awal kami adalah menuju Gunung Semeru, Jawa Timur karena bertepatan dengan arus balik mudik lebaran 1434 H tiket kereta pun habis dan apabila menaiki bus jelas harganya akan dua kali lipat, setelah dilaksanakan rapat singkat pada 24 Juli 2013 di Komp. Tegal Padang Kel. Taktakan Kec. Trangong, Serang, Banten kami memutuskan untuk mendaki gunung Slamet (3432 mdpl) Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 15-18 Agustus 2013 melalui jalur Bambangan, Purbalingga, sebenarnya ada 3 jalur yang dapat ditempuh untuk mendaki, pertama dari Baturaden, Purwokerto hanya saja jalur cukup terjal dan menantang, kedua dari Bambangan, Purbalingga dan yang ketiga dari Pemalang, pada lain tempat angkatan kedua sedang mendaki Gunung Ciremai dan tujuh belasan disana.
             Perjalanan kami mulai dari stasiun senen pada pukul 06.00 WIB yaitu menaiki kereta gajah wong jurusan Jakarta-Purwokerto dengan tiket seharga Rp.50.000 yang telah dipesan 3 minggu sebelum perjalanan, dari terminal senen kami hanya beranggotakan 5 orang dan ketua kita akan menyusul dari stasiun Cirebon Prujakan dengan kereta yang sama. Waktu perjalanan menempuh 4 jam dari stasiun senen menuju stasiun Cirebon prujakan dan 2 jam dari Stasiun prujakan menuju stasiun Purwokerto, setelah menempuh 6 jam perjalanan, kami sejenak istirahat dan langsung berangkat menuju terminal purwokerto dengan menaiki ojek seharga Rp.15.000, sebenarnya dari stasiun bisa langsung menuju pos bambangan hanya saja dengan harga Rp.100.000/org, dan kami memilih untuk menuju terminal Purwokerto.
              Setelah MCk kami pun melanjutkan perjalanan menuju pertigaan seruni dengan menaiki bus ¾ jurusan bobotsari dengan harga Rp.20.000/org selama kurang lebih 1 jam, setelah turun di pertigaan seruni kami harus naik mobil angkutan menuju Pos Bambangan dengan harga Rp.20.000/org dan dengan waktu tempuh 1 jam. Setelah tiba di Pos Bambangan kami harus registrasi dengan biaya Rp.5000/org dan ternyata sudah ada lebih dari 100 orang yang telah daftar dan siap untuk mendaki. Karena basecamp yang biasa ditempati pendaki mendadak penuh, kami pun istirahat di mushola di yang paling atas kemudian mempersiapkan barang-barang dan membeli yang kurang, pertamanya kami berniat untuk menginap semalam di mushola ini karena perjalanan akan kami mulai esok pagi, tetapi warga sebelah yang kami kenal waktu itu bernama Pak Toni mengajak kami untuk tinggal dirumahnya bersama para pendaki dari Pemalang, kami disuguhkan dengan makanan khas Bambangan dan Kentang Goreng hasil pertaniannya, sungguh rezeki yang tak dapat ditolak. Setelah bersenda gurau dengan keluarganya kami pun harus tidur untuk mempersiapkan fisik dan stamina untuk mendaki esok pagi.
trmy team
df
G.Slamet 3432 mdpl jalur Bambangan, Purbalingga
            Keesokan paginya kami mendaki pada pukul 07.00 WIB, dari gapura kami belok kanan ke arah puncak, dari sini puncak Gunung Slamet yang berbatu sudah terlihat keperkasaanya walau sangat jauh, kami pun semakin bersemangat dengan melewati perkebunan penduduk sampai kami tiba di Shelter kurang lebih 1 jam, dari sini pemandangan indah sudah mulai terlihat tetapi perjalanan kami masih begitu jauh, dengan beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan alam dan 1 jam lebih kemudian kami tiba di pos 2 yaitu Pondok gembirung begitu banyak pendaki yang beristirahat disini hingga kami tidak terlalu lama beristirahat dan melanjutkan perjalanan menuju pos 3 Pondok Walang selama 2 jam perjalanan dan 1 jam perjalanan menuju pos 4 Pondok Cemara dari sini hutan mulai terbuka,  banyak pohon yang terbakar akibat dari kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu sampai kami tiba di pos Samarantu kurang lebih 2 jam, menurut cerita masyarakat tempat ini adalah tempat yang paling jarang di tempati untuk ngecamp karena sesuai namanya Samar berarti samar/tak jelas dan antu yang berarti hantu jadi pos ini memang agak sedikit angker tetapi bagi yang tidak percaya atau ingin menguji nyali tetap dipersilahkan.
               Kami harus berjalan menanjak lagi menuju pos Samyang Rangkah di pos ini apabila musim hujan akan terdapat mata air dan disini terdapat shelter untuk para pendaki yang kelelahan, karena tempat sudah penuh dengan tenda terpaksa kami harus tetap jalan untuk sampai di pos berikutnya, belum lama berjalan kami tiba di pos Samyang jampang jalur pendakian sudah mulai terjal berdebu dan menurut utusan kami khairul fajri yang kami kirim untuk melihat keadaan diatas bahwasanya pos diatas sudah penuh oleh tenda para pendaki kami pun bingung harus ngecamp dimana, kemudian setelah menanjak sedikit kami menemukan tanah berukuran 3 kali 2 yang cukup untuk satu tenda dan merupakan sebuah keberuntungan. Jam sudah menunjukan pukul 14.30 kami pun siap untuk mendirikan tenda disini. Setelah makan, shalat dan segala macam kami bersiap untuk beristirahat karena perjalanan akan dilanjutkan menuju puncak pada pukul 01.30 malam dan terlihat disamping banyak para pendaki yang lalu lalang, kalau kami hitung mungkin sudah mencapai 200 orang lebih.

              Pukul 01.00 pun tiba kami bersiap-siap untuk mendaki dengan hanya membawa satu carrier bergantian dan sisanya ditinggal di tenda, terlihat begitu banyak pendaki lain yang lewat sampai-sampai kami pun harus mengantri untuk mendaki dan tidak begitu lama kami tiba di pos Samyang ketebunan, ternyata benar banyak tenda disini bahkan pendaki yang tidak mendapatkan tempat sampai tidur di semak-semak. Kami pun tetap melanjutkan perjalanan walaupun dengan langkah tidak terlalu cepat, sampai kami tiba di pos Samyang kendit yang sama seperti sebelumnya disini juga banyak tenda pendaki sampai di pos terakhir Pelawangan Batu Merah yang merupakan batas akhir vegetasi karena dari pos ini ke atas hanya berupa batu pasir yang menanjak. Dari sini kami harus berjuang menaiki batu-batu terjal berpasir yang apabila kami salah menginjaknya bisa mencelakakan pendaki dibawah, dengan semangat 17 Agustus kami melewati tanjakan batu berpasir ini, sampai kami tiba di puncak sebelum Sun Rise dan meneriakan kata “MERDEKA INDONESIA” bendera merah putih pun dikibarkan juga ada beberapa pendaki yang membawa kembang api dan membuat suasana semakin menggembirakan ditambah pemandangan lautan awan dan sun rise yang mulai muncul membuat lelah dan letih kami terbayarkan.
fbh
17 Agustus 2013
sslll
Di puncak G. Slamet 3432 mdpl
           Setelah taking picture bersama-sama, dua orang dari kami reva dan fajri berminat untuk melihat kawah Gunung Slamet karena yang lain sangat lelah untuk menuruni bukit lagi yang penuh dengan batu. Setelah semua acara selesai kami pun bergegas untuk turun kembali ke tenda dan langsung kebawah yang hanya membutuhkan waktu 4 jam untuk turun dan tiba di gapura pukul 13.20 Wib selanjutnya kami bersiap-siap untuk berpamitan dengan Pak toni yang ternyata dia adalah pengawas pendakian Gunung Slamet, dan kami pulang ke Terminal Purwokerto kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar